TAIGANJA

Beberapa jenis Taiganja

BENDA PURBAKALA

Beberapa Benda Purbakala yang ada di wilayah Sulawesi Tengah.

SITUS MEGALIT

Beberapa Situs Megalit di Wilayah Napu.

SULTENG Daerah 1000 Megalit

Sulawesi Tengah dicanankan sebagai Daerah Seribu Megalit ...

PETA TUA

Peta Tua Wilayah Indonesia.

Jumat, 18 April 2025

Peta Tertua

ملخص المقال

أقدم خريطة للعالم القديم في التاريخ، تعرف على قصتها ومن رسمها وكيف كان الإنسان القديم يتخيل العالم والكرة الأرضية في هذا الوقت..

قصة أقدم خريطة للعالم في التاريخ  |  بالصور

    أقدم خريطة في التاريخ

    إنَّ أقدم خريطة في التاريخ تعود للعصر البابلي المتأخر (بحدود 600 ق. م)؛ حيث كان التوسُّع الإمبراطوري لبابل الكلدانيَّة والازدهار العلمي سببًا لابتداع العقل العراقي وسائل أفضل للتخطيط الجغرافي لغرض السيطرة على الأقاليم.
     

    خريطة العالم كما رسمها البابليون

    أمَّا في مجال معرفة سكان بلاد الرافدين بجغرافيَّة المناخ فخير مثال على ذلك ما خلَّفوه لنا من كتابات تخصُّ مواعيد الزرع والحصاد، أو ما يُعرف بكتاب الفلاحة والانقلاب الشتوي والصيفي الخاص بالمناخ الملائم لزرع النباتات، وبذلك يكون سكَّان بلاد الرافدين أوَّل من وضع أسس العلوم الجغرافيَّة بفروعها المختلفة التي أخذها عنهم اليونانيون، والرومان، وغيرهم من الحضارات.
     

    خريطة العالم كما وضعها البابليون من 4000 سنة


    إنَّ أقدم خريطةٍ للعالم معروفة هي: «صورة العالم»، من القرن السادس قبل الميلاد من بابل، وهذه الخارطة -كما أعاد تركيبها أكهارد إونكر- تُبيِّن بابل على الفرات محاطة بدائرة من اليابسة، وتبين آشور وأرمينيا وبضع مدن؛ والتي بدورها محاطة كلها بالبحر المر (المحيط)، مع سبع جزرٍ مرتَّبة دائريًّا حولها لتكون نجمة سباعيَّة.
     
    ويُذكر في النص الآتي سبع مناطق خارجيَّة وراء المحيط الذي يُحيط بالخارطة.
    وبقي خمسة من أوصاف هذه المناطق:
     
    «-تقع الجزيرة الثالثة "حيث ينهي الطير المجنَّح طيرانه"؛ أي: حيث لا يستطيع الوصول.
    -وفي الجزيرة الرابعة "حيث النور أكثر سطوعًا من نور غروب الشمس، أو من النجوم". ويقع في الطرف الشمالي الغربي، وحيث غروب الشمس في الصيف خاصَّةً يكن في شبه غموض.
    -وفي الجزيرة الخامسة، وباتِّجاه المال "هناك ظلامٌ تامٌّ وأرضٌ لا يرى فيها أحدٌ أيَّ شيء، ولا ترى فيها الشمس".
    - وفي الجزيرة السادسة "حيث يعيش ثور ذو قرونٍ يُهاجم من يلاقي".
    - وتقع الجزيرة السابعة في الشرق "حيث يشرق الصباح".»
     

    تصور البابليون للعالم .. النجمة السباعية

     

    البابليون وتصورهم لخريطة العالم القديم

    لقد رسم البابليون خريطة العالم القديم وتصوروا العالم وكأنَّه كرة مدورة؛ فإنَّ الجغرافي البابلي قد رسم العالم بإسقاط مساحات الكرة الأرضيَّة على مسطَّحين متداخلين دائريَّين؛ فهذا يعني أنَّه اقترب كثيرًا في تصوُّراته التي توصَّل إليها علماء الجغرافيا المحدثون من وصف الأرض بشكلها الكروي.
     
    لقد توَّج العراقيُّون القدماء علومهم ومعارفهم الخاصَّة بعلم الجغرافيا من خلال النقائش المسماريَّة الخاصَّة بفتوح البلدان وأسمائها والمسافات بين مدينةٍ وأخرى، ومن بين أهمِّ ما ورد في هذا المجال، نقشٌ تركه لنا مؤسِّس أوَّل إمبراطوريَّة في التاريخ؛ الملك سرجون الأكدي (2371 - 2316 ق.م)، حيث ذكر المسافة بقياس الساعة المضاعفة (وهي الساعة البابليَّة، وتساوي ضعف زمن الساعة الحاليَّة، وتُقدَّر بحوالي فرسخين "10.8 كم2")، ونصُّ ترجمة الكتابة:
     
    «مسيرة 120 ساعة مضاعفة بين منابع الفرات وبلاد ميلوخا (بلاد وادي السند) ومجان (عمان)، الحدود التي فتحها سرجون ملك العالم، عند سيطرته على كلِّ البلاد المغطَّاة بالسماء، الحدود التي حدَّدها بالقياسات التي ثبتها".
     
    وفي النقش نفسه نجد ثبتًا بمساحة كلِّ بلد، وكمثال على ذلك نقرأ: "ساعة مضاعفة مساحة بلاد عيلام (غرب إيران حاليًّا)، 180 ساعة مضاعفة مساحة بلاد أكد".
     
    ومن الناحية الطبوغرافيَّة فإنَّ العراقيِّين القدامى تركوا لنا نقائش ورسومات حدَّدوا من خلالها الجبال، والصحاري، والمسطَّحات المائيَّة، والأنهار، والمجاري، ودوَّنوا قوائم بأسمائها، كما حدَّدوا الاتِّجاهات الأربعة الرئيسة، وهي ظاهرةٌ لم تُعرف إلَّا في وقتٍ متأخر، كما حدَّدت بعض الخرائط الخاصَّة بالمدن حدودَ مدينةٍ معيَّنة، ومخطَّطها العام والخاص، ومن أمثلة ذلك: خارطة مدينة نفر المقدَّسة جنوب العراق بحدودها ومعابدها وشوارعها وأبنيتها المختلفة، على لوحٍ طينيٍّ مفخور محفوظ في متحف جامعة ينا (فريدريش شيلر) في ألمانيا، لتُبيِّن مدى اهتمام العراقيِّين القدماء في رسم الخرائط في حدود الألف الثاني قبل الميلاد.
     

    خريطة مدينة نفر

    أمَّا في مجال معرفة سكان بلاد الرافدين بجغرافيَّة المناخ فخير مثالٍ على ذلك ما خلَّفوه لنا من كتاباتٍ تخصُّ مواعيد الزرع والحصاد، أو ما يُعرف بكتاب الفلاحة والانقلاب الشتوي والصيفي الخاص بالمناخ الملائم لزرع النباتات، وبذلك يكون سكان بلاد الرافدين أوَّل من وضع أسس العلوم الجغرافيَّة بفروعها المختلفة، والتي أخذها عنهم اليونانيون والرومان وغيرهم من الحضارات.
     



    خريطة مدينة نفر

    Sumber : DISINI

Kamis, 17 April 2025

Suku Lauje Tolitoli

 


Suku Lauje, salah satu suku yang hidup di pedalaman Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, hingga kini masih mempertahankan tradisi dan budaya leluhur mereka yang telah diwariskan selama berabad-abad. Berada di kawasan pegunungan dan hutan yang terpencil, keberadaan suku ini jarang terungkap ke publik, namun tetap menjadi bagian penting dari keberagaman etnis di Tolitoli.

Suku Lauje dikenal memiliki sistem kepercayaan dan kehidupan sosial yang khas. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil dan mendiami rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu. Struktur masyarakatnya sangat erat, dengan ikatan kekerabatan yang kuat antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Kehidupan sehari-hari mereka sebagian besar bergantung pada hasil hutan, seperti berburu, meramu, dan bercocok tanam dengan cara tradisional.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tolitoli, Yustianto Bantilan, keberadaan Suku Lauje merupakan salah satu warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. "Suku Lauje memiliki kearifan lokal yang luar biasa, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Mereka sangat menghormati alam dan menjalani kehidupan yang seimbang dengan lingkungan sekitar," ujarnya.

Salah satu hal yang menarik dari Suku Lauje adalah sistem kepercayaan mereka yang masih kuat, meskipun modernisasi perlahan-lahan mulai merambah ke daerah mereka. Mereka percaya pada kekuatan alam dan roh nenek moyang yang dianggap sebagai pelindung dan penuntun dalam kehidupan sehari-hari. Ritual-ritual adat masih sering dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sebagai cara untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. Suku lauje di pedalaman Tolitoli

Meskipun begitu, akses menuju wilayah tempat tinggal Suku Lauje tidaklah mudah. Jalur-jalur yang terjal dan kondisi geografis yang sulit membuat perjalanan menuju ke sana memerlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Namun, hal ini justru membantu menjaga keberadaan mereka dari pengaruh luar yang dapat mengancam kelestarian budaya mereka.

Sayangnya, perkembangan zaman dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat membuat beberapa anggota Suku Lauje mulai berpindah ke daerah yang lebih terjangkau untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat setempat untuk menjaga agar budaya dan tradisi Suku Lauje tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Sementara itu, beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendukung pelestarian budaya Suku Lauje, termasuk pengenalan budaya mereka melalui festival budaya dan program-program pengembangan masyarakat. "Kami berusaha agar Suku Lauje tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi juga di tingkat nasional. Dengan demikian, generasi muda dapat belajar dan mengenal warisan budaya yang kaya ini," tambah Yustianto Bantilan.

Keberadaan Suku Lauje di Kabupaten Tolitoli tidak hanya menambah keragaman budaya di Indonesia, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kehidupan tradisional yang selaras dengan alam masih dapat bertahan di era modern ini.

Tantangan yang dihadapi Suku Lauje dalam mempertahankan tradisi mereka memang besar, namun dengan dukungan yang tepat, warisan budaya ini diharapkan dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Sumber : DISINI

10 Perkembangan Suku Lauje, Salah Satu Suku Di Sulawesi Tengah

 


Melihat Lebih Dekat Kemajuan Suku Lauje

Suku di Sulawesi Tengah - Suku Lauje termasuk suku yang memiliki penyebaran yang luas. Semakin bertambah dan makin maju dari sebelumnya.

Penulis merasa perlu mempublikasikan di blog ini agar sahabat mengetahui bahwa ada suku di Sulawesi Tengah bernama Suku Lauje "Tope Lauje" atau "Orang Lauje" juga sering di sebut "Orang Bela" yang banyak mengalami perkembangan hingga saat ini.

 

suku-lauje

 

Izinkan penulis menginformasikan bahwa, penulis lahir di Tinombo yaitu ibu kota kecamatan Tinombo yang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Parigi Moutong. Sebelumnya penulis  menetap di Desa Bobalo, sekitar 7 km dari Tinombo. Penulis tumbuh dan besar di lingkungan Suku Lauje sehingga penulis melihat langsung dan memahami bagaimana kehidupan Suku Lauje.

 

Asal Usul Suku Lauje

Suku Lauje sebenarnya masih termasuk dalam rumpun Suku Tialo dan dapat dikatakan bagian dari suku-suku di Kecamatan Tomini. Atau bisa disebut bagian Suku Tomini. Olehnya itu sejumlah kosa kata bahasa Lauje memiliki kesamaan arti atau dituturkan sama dengan bahasa Tialo. Misalnya dalam bahasa Lauje mengatakan "besar" = "basage", begitupun bahasa Tialo. Arti kata "Lauje" sendiri adalah "tidak" dalam Bahasa Lauje.

 

Jika di tesuri lebih dalam, bahasa Lauje merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia dan Bahasa Melayu-Polinesia Barat. Bahasa Autronesia ini memiliki penyebaran yang luas mencakup hingga wilayah Taiwan, Hawai, Selandia Baru, Madagaskar dan Pulau Paskah. Bisa sahabat  bayangkan! betapa luasnya rumpun bahasa Austronesia.

 

Secara historis, Suku Lauje mulanya berasal dari keturunan Yongko Umur. Kemudian Yongko Umur menghasilkan dua keturunan yaitu laki-laki bernama Olongian atau Ilah Ta'ala dan perempuan bernama Nur Ilah. Menurut kepercayaan mereka, Olongian atau Ilah Ta'ala bertempat di alam atas atau di Langit sedangkan Nur Ilah bertempat di alam bawah atau di Bawah Tanah. Dari keturunan keduannya inilah menghasilkan Suku Lauje saat ini.

 

Kehidupan Ekonomi Suku Lauje

Suku Lauje umumnya bekerja di ladang. Mereka menanam padi dan Jagung sebagai tanaman utama. Selain itu mereka juga menanam sayur-sayuran dengan sistim berpindah-pindah. Hal ini karena dulu relatif belum ada kepemilikan lahan yang sifatnya tetap. Selain itu mereka juga bekerja sebagai nelayan dan beternak.

 

 

Jika berdasarkan penjelasan dari tokoh masyarakat sekaligus seorang Anggota DPRD yang memahami kehidupan Suku Lauje sebagaimana dilansir dalam Radar Sulteng (Minggu,16/02/2020) menilai bahwa Suku Lauje bukan termasuk petani ladang berpindah namun lebih tepat disebut petani berotasi. Hal ini menurutnya karena berpindah dari titik awal kemudian balik ke titik semula. Artinya ada recovery lahan (lahan di istrahatkan) baru kemudian di garap kembali.

 

Dalam perkembangan selanjutnya, bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai biasanya menanam Ubi Jalar, Pisang, Mangga, Pepaya dan sayur-sayuran. Diwaktu-waktu tertentu mereka juga mengambil damar, rotan, kemiri, membuat kerajinan, berburu dan beternak. Suku Lauje mampu bertahan hidup di musim paceklik dengan mengkonsumsi Ubi Jalar atau Unggayu, Ubi Hutan atau Ondot.

 

Setelah sekian lama menggunakan sistim berpindah atau berotasi, maka Suku Lauje khususnya yang berada di wilayah Parigi Moutong mulai tahun 1980-an menanam tanaman yang bersifat jangka panjang. Mereka menanam Kelapa, Kakao dan Cengkeh. Hasilnya mereka jual untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sejak itu perlahan-lahan kegiatan ekonomi mulai berjalan walaupun masih sederhana.

 

10 Perkembangan Suku Lauje

Suku Lauje sering di kategorikan sebagai suku terasing khususnya yang masih mendiami daerah pegunungan dan pedalaman. Sedikit demi sedikit mulai diberdayakan. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan sejalan dengan silih bergantinya kepimpinan di Kabupaten Parigi Moutong.

 

Dimasa kepemimpinan Bupati Samsurizal Tombolotutu, penguatan dan pemberdayaan Suku Lauje semakin intens di lakukan. Hal ini karena keinginan untuk memberdayakan putra-putri daerah agar nantinya memiliki kehidupan yang lebih maju, sejajar dengan suku-suku lain yang ada di daerah ini. Berdasarkan perkembangan yang ada, paling tidak ada 10 perkembangan Suku Lauje yang nampak saat ini.

 

1. Suku Lauje Telah Berbaur

Sebenarnya sebagian Suku Lauje yang mendiami pegunungan di daerah Ogoalas Kecamatan Tinombo, telah berinteraksi dengan orang asing atau berkebangsaan Kanada (Sebut: Orang Kanada). Masih teringat ketika penulis duduk di Bangku SMA sekitar tahun 1991-1992, penulis dengan beberapa rekan pergi mengunjungi pemukiman Suku Lauje yang telah berbaur dengan orang Kanada. Jaraknya cukup jauh menelusuri hutan dengan jalan setapak.

 

Waktu itu kami berangkat pagi hari sekitar pukul 08.00, mulai melakukan pendakian di sekitar Desa Ogoalas yang terkenal cukup terjal. Kami kesulitan mendaki ketika itu, karena selain medannya licin juga banyak tanjakan. Sepanjang perjalanan, kami harus bekerja keras, saling membantu untuk bisa menaklukan sungai dan tebing yang curam.

 

Ketika perjalanan mendekati pemukiman orang Kanada, kami menyaksikan langsung kehidupan moderen Suku Lauje bersama orang Kanada. Kami sempat melihat beberapa peralatan mesin cuci yang sudah rusak dan tidak terpakai tergeletak begitu saja. Saya menyadari bahwa dikeluarga saya belum memiliki peralatan secanggih itu.

 

Karena jalannya yang cukup sulit, kami bahkan melakukan perjalanan sampai malam hari. Kami sampai di pemukiman suku Lauje sekitar pukup 07.00 yang langsung di sambut beberapa orang Kanada. Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami, akhirnya membantu kami, memberikan selimut dan penerangan. Mereka juga mengizinkan untuk membuat perkemahan di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan meminta pakaian kami untuk di bersihkan menggunakan mesin cuci. Luar biasa kehidupan disini! kata penulis dalam hati.

Baca Juga

Mencari Ketenangan: Rekomendasi 27 Tempat Wisata di Indonesia Untuk Meditasi dan Relaksasi

Seru-Seruan Wisata Pulau Seribu Menjelajah di Surganya Dunia

10 Keunggulan Destinasi Wisata Bambalemo Beach yang Membedakannya dengan yang Lain

 

Orang Kanada yang tinggal menetap di daerah itu telah mampu berkomunikasi dengan Suku Lauje. Mereka bisa menggunakan Bahasa Lauje maupun menggunakan Bahasa Indonesia yang benar. Bahkan beberapa dari Suku Lauje sangat pandai Berbahasa Indonsia. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Lauje yang jauh dari kehidupan moderen ketika itu sudah berbaur dan mengenal pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa kehadiran bangsa Kanada memberikan kontribusi bagi kemajuan Suku Lauje.

 

Terlepas dari penjelasan di atas, di hari-hari tertentu seperti hari pasar dan juga lebaran, Suku Lauje turun dari pemukimannya dan berbaur dengan masyarakat yang berada di daerah Tinombo. Penulis sering berkomunikasi dengan mereka tentunya dengan Bahasa Lauje. Jika hari pasar tiba, mereka datang berbelanja di pasar, membeli pakaian dan bahan makanan seperti beras, gula pasir, garam, minyak tanah dan lain-lain. Artinya ketika itu banyak dari mereka telah memahami alat tukar atau mata uang.

 

Mereka bukan hanya sekedar berbelanja, tetapi juga menjual hasil ladang seperti Ubi Jalar, Uji Kayu, Kayu Manis dan lain-lain. Mereka juga menjual hasil peternkan seperti Ayam. Mereka layaknya masyarakat yang sudah terbiasa berinteraksi dengan para penjual di pasar. Saat ini mereka tidak ada bedanya dengan masyarakat biasa yang hidup di Tinombo. Mereka berkomunikasi seperti biasa.

 

1. Berpedidikan

Saat ini banyak dari Suku Lauje telah memiliki pendidikan. Bahkan banyak dari mereka berpendidikan tinggi.  Sebagian menjadi aparat keamanan dan tenaga pendidik. Tidak sedikit dari Suku Lauje telah bekerja di pemerintahan seperti menjadi tenaga ASN dan anggota DPRD. Kehidupan mereka makin maju setara dengan suku lain.

 

2. Mengenal Teknologi Informasi

Suku Lauje tidak dapat dikatakan sebagai suku terasing lagi. Mungkin itu sesuai beberapa tahun yang lalu. Sekarang banyak dari mereka layaknya seperti kebanyakan orang. Menggunakan Handphone untuk berkomunikasi. Oleh karena itu dengan teknologi yang semakin maju dan menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia, memungkinkan akses luar biasa bagi kemajuan Suku Lauje.

 

3. Menggunakan Sarana Transportasi

Jika dulu Suku Lauje harus berjalan berjam-jam untuk pulang-pergi dalam aktifitas berbelanja. Sekarang ini tidak demikian. Sebagian dari mereka telah menggunakan alat transportasi seperti sepeda motor. Mereka menggunakan jasa ojek untuk alat transportasi. Bahkan  beberapa dari mereka telah memiliki sepeda motor sendiri. Pemandangan ini kerap di saksikan ketika hari pasar tiba. Di area pertokoan Tinombo biasanya selepas berbelanja, mereka mencari tumpangan untuk kembali ke tempat tinggalnya.

 

4. Menjalin Komunikasi

Keakraban antara Suku Lauje yang tinggal di pedalaman sudah mampu menjalin komunikasi yang baik dengan saudaranya yang ada di hilir. Etika dan sopan santun nampak dari tutur kata mereka. Memang sejak dulu Suku Lauje tidak banyak berkomunikasi. Mereka lebih banyak berdiam diri dan hanya berkomunikasi jika diajak. Namun sekarang telah berubah. Mereka saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan seringkali membantu beberapa pekerjaan yang diberikan saudaranya.

 

5. Mengadu Nasib dan Tinggal di Perkotaan 

Tidak sedikit dari Suku Lauje yang telah tinggal di perkotaan. Mereka datang dengan berbagai kepentingan. Ada yang menjadi karyawan toko, bekerja sebagai ASN, ikut suami, melanjutkan studi dan ada yang sekedar membantu keluarganya yang tinggal di perkotaan. Mereka pulang ketika lebaran tiba atau hari-hari libur. Mereka "pulang kampung" ketika ada kesempatan untuk menengok  sanak saudaranya. Kebiasaan ini memang umum di lakukan, bahkan kita di perkotaan sering melakukannya.

 

6. Mengikuti Perkembangan Informasi

Suku Lauje sebagaimana suku lainnya telah mengikuti perkembangan informasi. Melalui media televisi yang makin mudah di akses sekarang ini, mereka mengetahui perkembangan yang terjadi didaerah lain. Informasi yang diterima dapat mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian dari pemerintah dengan mudah mereka ketahui.

 

7. Ikut Memanfaatkan Teknologi Internet  

Utamanya bagi Suku Lauje yang telah berkembang dan mengikuti perkembangan zaman, mereka ikut pula memanfaatkan teknologi internet. Melalui smartphone mereka dapat mengkases internet dengan mudah. Apa yang ingin mereka ketahui dapat di cari dan manfaatkan sehingga menambah pengetahuan mereka.

 

8. Dorongan yang Semakin Kuat Dari Pemerintah

Tidak seperti beberapa tahun lalu, dimana akses pemerintah kesulitan diterima oleh mereka yang tinggal di pedalaman. Sekarang ini pemerintah mendatangi mereka di pemukimannya. Diberikan penjelasan dan informasi, mendorong mereka supaya berkembang seperti saudara mereka lainnya. Seperti contoh kerjasama pemerintah daerah dan masyarakat Suku Lauje yang telah mengirimkan delegasi mewakili Propinsi Sulawesi Tengah untuk mengikuti Jambore Tagana Nasional Jatim.

 

9. Sarana Jalan yang Makin Baik

Pemerintah daerah terus berupaya untuk memperbaiki sarana jalan yang menuju kepemukiman Suku Lauje. Hal ini karena ada perhatian dan keinginan yang kuat dari pemerintah untuk membangun produktivitas Suku Lauje. Mulai dari anggotan DPRD sampai pemerintah ke tingkat paling bawah sekalipun, berusaha mendorong kemajuan melalui sejumlah program pemberdayaan. Jalan yang semakin baik memungkinkan transportasi yang lancar ke tempat mereka berada.

 

10. Aspek Kesehatan yang Makin Baik

Makin berkembangnya sarana kesehatan memungkinkan mereka yang berada di pedalaman dapat menerima fasilitas kesehatan. Termasuk Suku Lauje yang diprioritaskan menerima anggaran tersebut untuk memperbaiki nasib mereka. Alokasi BPJS yang makin luas sangat membantu mereka yang kehidupannya masih di bawah garis kemiskinan. 

Apa yang telah diuraikan di atas hanya sebagian dari perkembangan Suku Lauje, jika sahabat ingin mengetahuinya silahkan membuka tautan yang sudah penulis berikan pada referensi dan sumber di atas.

Semoga apa yang penulis tuturkan di atas memberikan pencerahan bagi sahabat sekalian. Jika ingin berbagi informasi silahkan kirim di kolom komentar. Jika ingin berlangganan silahkan masukan emailnya dan tekan tombol berlangganan. Terima kasih atas kunjungannya.


Sumber : DISINI

Sejarah Suku Balaesang

 


Orang Balaesang merupakan penduduk asal dari Kecamatan Balaesang, terutama di semenanjung Manimbaya. Kecamatan ini merupakan satu dari 17 kecamatan dalam wilayah administratif Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Sumber tertentu menyebutkan bahwa orang Balaesang merupakan sub kelompok dari orang Kaili yang juga merupakan penduduk asli di Sulawesi Tengah.

Namun orang Balaesang memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Balaesang. Bahasa ini malahan masih mempunyai dua buah dialek, yaitu dialek Balaesang dan dialek Pendau. Jumlah penutur bahasa ini belum diketahui dengan pasti. Pada tahun 1986 Kecamatan Balaesang berpenduduk 20.890 jiwa. Berapa jumlah orang Balaesang di antara penduduk kecamatan tersebut juga tidak tersedia data. Data lain tentang masyarakat ini belum sempat didapatkan.


Sumber : DISINI

Sejarah Suku Lauje

 


Sejarah Suku Lauje

      Lauje adalah suku bangsa yang antara lain berdiam di wilayah kecamatan Tomini, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Dalam penelitian lapangan tentang sistem budaya masyarakat terasing di Sulawesi Tengah yang dilakukan oleh Anrini Sofion dan Tri Choesianto (1986), orang Lauje diperkirakan tidak hanya berdiam di Kecamatan lain dalam kabupaten Donggala, bahkan ada pula yang berdiam di wilayah Kabupaten Poso dan Luwu Banggai. Jumlah orang Lauje di wilayah Kecamatan Tomini, yang seluruh penduduknya berjumlah 37.032 jiwa pada tahun 1984, tidak lagi diketahui secara pasti. Di Kecamatan ini mereka sebagian berdiam di sekitar pantai Teluk Tomini dan lainnya di daerah pegunungan.

Ciri Fisik Orang Lauje

Dalam laporan penelitian tersebut diatas dapat diketahui ciri-ciri fisik orang Lauje, antara lain, tinggi tubuh kaum prianya rata-rata 160 sentimeter, dan kaum wanita 150-155 sentimeter. Warna kulitnya Sawo matang sampai kehitam-hitaman. Rambutnya sebagian lurus dan sebagian berombak dengan warna agak kemerah-merahan. Rongga mata agak cekung ke dalam dengan warna mata hitam. Sayap dan lubang hidung agak lebar. Bentuk mulut lebar dan bibir tebal. Gigi tampak besar dan kuat pada rahang yang besar.

Pola Perkampungan suku Lauje

Pola pemukiman orang Lauje di daerah pegunungan berbeda dengan yang tinggal di daerah pantai. Di daerah pegunungan mereka mendiami rumah di tengah ladang masing-masing, yang jaraknya satu sama lain mencapai satu kilometer. Rumah itu boleh dikatakan bukan rumah tetap, karena kalau keadaan tanah perladangannya sudah tidak subur, mereka akan pindah dan membuat rumah baru lagi. Rumah itu terbuat dari bahan kayu dengan atap rumbia atau daun kelapa. Rumah panggung itu terkadang tidak terdinding, karena atapnya langsung sampai ke tanah. Bagian dalam tidak mengenal pembagian ruangan, dan disitulah mereka bekerja, makan, dan tidur. Rumah orang Lauje di daerah pantai tampak mengelompok padat dan berjejer menghadap jalan. Disini rumah panggung yang terbuat dari bahan yang sama seperti di pegunungan sudah mengenal pembagian ruangan karena pengaruh dari luar.

Mata Pencaharian Suku Lauje

Mata pencaharian pokok mereka adalah bercocok tanam di ladang yang masih berpindah-pindah, dengan tanaman utama padi dan jagung. Selain itu mereka juga menanam sayur-sayuran. Akhir-akhir ini mereka sudah mulai menanam cengkeh dan bawang putih. Orang Lauje di daerah pantai juga menanam singkong, ubi jalar, pisang, pepaya, mangga liar, dan sayur-mayur di sekitar pekarangan. Jenis mata pencaharian sambilan lain adalah mencari rotan, damar, kemiri, membuat kerajinan tangan, berburu, dan beternak. Pada musim paceklik mereka biasanya makan ubi jalar (unggayu), ubi hutan atau gadung (ondot) yang tumbuh liar di hutan.

 

Dalam rangka bertanam padi di ladang, mereka mempunyai suatu pola kegiatan dengan kepercayaan dan upacara tertentu. Pertama-tama mereka mengukur tanah yang akan dijadikan ladang yang luasnya sesuai dengan kemampuan untuk mengerjakannya. Setelah melakukan pengukuran untuk mengerjakannya. Setelah melakukan pengukuran, mereka meletakkan sesaji yang ditujukan kepada roh tanah (Togu Ptu') sebagai permintaan izin. Izin itu ditunggu lewat mimpi selama dua atau tiga hari. Dalam mimpi itu juga diberikan isyarat berapa lama boleh menggarap tanah tersebut. Setelah ada izin, barulah pohon-pohon di areal yang sudah diukur itu ditebang. Alat penebangnya kapak (beliung) dan parang (piging). Apabila sudah kering, pohon-pohon dibakar, dengan tujuan memudahkan pembersihannya, menyuburkan tanah, dan mengusir roh jahat yang berdiam di tanah (puang ma petu'). Kemudian mereka bertanam padi dan jagung dengan cara melubangi tanah dengan tugal (suang).

 

Sebelum masa panen tiba, mereka membersihkan rumput (basube') sebanyak dua kali untuk tanaman padi dan satu kali untuk tanaman jagung. Kegiatan panen baru bisa dilakukan setelah upacara panen dilaksanakan. Upacara itu dipimpin oleh pemuka uacara wanita (madodon). Panen itu dilakukan oleh wanita dengan menggunakan alat ani-ani.

Kekerabatan Suku Lauje

Selain keluarga inti, mereka juga mengenal kelompok kekerabatan keluarga luas. Suatu keluarga luas berdiam dalam satu rumah, namun setiap keluarga inti memiliki dapur sendiri. Gabungan keluarga luas merupakan kelompok yang menyerupai klen patrilineal. Desa Palasa di Kecamatan Tomini terbagi atas 31 kelompok patrilineal. Setiap kelompok berdiam di satu daerah tertentu dengan nama-nama tersendiri yang sama dengan nama gunung atau nama lembah tempat tinggal mereka. Dalam perkawinan mereka mengamalkan adat eksogami kelompok. Para pemuda dibebaskan memilih jodohnya sendiri, meskipun pilihan anak tidak selalu disetujui oleh orang tua. Oleh sebab itu, mereka juga mengenal adat kawin lari.

 

Terselenggaranya suatu perkawinan didahului oleh beberapa tahap, yaitu pelamaran, penerimaan lamaran, penyerahan mas kawin, dan pernikahan. Lamaran dari pihak pria kepada pihak wanita disampaikan dengan cara mengirim utusan yang membawa piring batu (tolang). Bila pinangan diterima, pihak pria menyiapkan 11 barang pinangan, yaitu sehelai sarung batik (bate'), baju kebaya (kabaya), sepasang gelang (gonge), sepasang anting-anting (anti-anti), jarum (siji'), satu gulung benang jahit (gapase), sisir (sasalange), satu untai peniti (paniti), sebuah cermin (pandangan), bedak (pupure), satu buah kantong kain yang berisi uang sejumlah 100-500 rupiah. Barang lamaran ini diantar oleh kepala adat pihak pria bersama ayah dan saudara sekandung calon mempelai itu. Penerimaan lamaran (tinarimane) oleh pihak wanita ditutup dengan makan bersama.

 

Penyerahan mas kawin dilaksanakan setelah dua atau tiga minggu lamaran diterima. Penyerahan mas kawin biasanya dilaksanakan pada malam hari, dan hanya boleh dihadiri oleh pria yang telah menikah. Golongan muda-mudi berada di luar rumah, bersuka-ria dengan cara menyanyi dan menari. Penyerahan mas kawin merupakan inti upacara. Mas kawin itu terdiri atas empat tumpukan barang, yaitu satu buah piring batu (sampilubibi) sebagai pembuka kata, satu piring batu (asasala) sebagai pembersih dosa, mas kawin yang sebenarnya (tolang), terdiri atas 12, 10, atau 7 piring baru, sesuai dengan derajat sang gadis, dan pedang yang berisi empat buah piring bat. Upacara pernikahan berlangsung dengan berbagai upacara yang sangat rumit.

Agama dan Kepercayaan Suku Lauje

Pada masa kini, sebagian orang Lauje memeluk agama Kristen dan sebagian lagi memeluk agama Islam. Namun, unsur-unsur sistem kepercayaan lama masih mereka amalkan. Orang Lauje percaya bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama. Salah seorang nenek moyang mereka adalah Yongko Umur, yang kemudian menurunkan Olongian Laki-Laki dan Olongian Perempuan. Olongian laki-laki berdiam dan memerintah di "alam atas" (langit). Ia kemudian dikenal dengan nama Ilah Ta'ala. Olongian perempuan berdiam dan memerintah di "alam bawah" (bawah tanah). Orang Lauje menyebut olongian perempuan dengan nama Nur Ilah. Kedua olongian inilah yang kemudian menurunkan orang Lauje yang ada sekarang.

 

Di samping kedua olongian tadi, orang Lauje masih percaya kepada beberapa ilah lain yang mempunyai tugas khusus dalam kehidupan manusia di dunia. Pertama, Raja Tongka Alah yang bertugas sebagai perantara antara roh-roh orang yang telah meninggal yang berdiam di langit dan orang yang masih hidup di bumi. Kedua, Puang Ma Petu' yang berdiam di bawah tanah sebagai ilah perusak. Ketiga, Olongian sebagai ilah penyelamat yang berada di mata air. Orang Lauje percaya pula kepada roh-roh halus, yaitu Togu Petu', Togu Ompongan, dan Togu Ogo. Seperti telah disinggung di atas, Togu Petu', yang bertugas menjaga tanah, dianggap sangat menentukan berhasil tidaknya usaha di ladang. Togu Petu', yang bertugas menjaga tanah, dianggap sangat menentukan berhasil tidaknya usaha di ladang. Togu Ompongan adalah roh penguasa hutan yang mengawasi aktivitas manusia di hutan. Togu Ogo adalah roh penjaga air dan penguasa di sungai-sungai. Kepada para roh inilah orang meminta izin bila hendak melakukan aktivitas tertentu di sekitar lingkungan kekuasaannya.

 

Sumber : DISINI

Bahasa Lauje

 


Sulawesi Tengah memiliki keragaman budaya yang sangat kaya, salah satunya adalah keberadaan Suku Lauje. Suku ini merupakan salah satu suku asli Indonesia yang mayoritas menetap di wilayah Kabupaten Parigi Moutong. Namun, persebaran masyarakat Suku Lauje tidak hanya terbatas di daerah ini saja. Mereka juga bisa ditemukan di Kabupaten Donggala, khususnya di wilayah Sojol, serta di Kabupaten Tolitoli, terutama di Kecamatan Dondo. Beberapa komunitas lainnya tersebar di wilayah Kecamatan Palasa, Tinombo, Tomini, dan Ampibabo di Parigi Moutong.

Keunikan Budaya Suku Lauje

Suku Lauje dikenal memiliki budaya yang erat kaitannya dengan lingkungan alam, seperti pertanian dan perikanan. Salah satu hal menarik adalah tradisi lisan mereka yang sering disampaikan melalui cerita rakyat dan nyanyian lokal. Bahasa Tomini, yang menjadi bahasa sehari-hari mereka, memiliki nilai budaya yang tinggi karena mencerminkan identitas dan sejarah panjang masyarakat Lauje.

Di beberapa daerah seperti Kecamatan Tinombo dan Tomini, Suku Lauje tetap mempertahankan tradisi adat seperti upacara syukuran panen dan ritual adat lainnya yang sarat dengan nilai kearifan lokal. Mereka juga terkenal dengan makanan tradisional berbahan dasar hasil bumi, seperti ubi-ubian dan jagung, yang diolah dengan cara khas.

Penyebaran dan Kehidupan Modern

Meskipun sebagian besar masyarakat Lauje masih hidup di pedesaan dengan gaya hidup tradisional, banyak di antara mereka yang telah bermigrasi ke daerah perkotaan untuk mencari pekerjaan atau menempuh pendidikan. Meski demikian, mereka tetap menjaga identitas suku dan budaya mereka. Dalam kehidupan modern, masyarakat Lauje sering mengadakan pertemuan budaya untuk mempererat tali persaudaraan di antara anggota komunitas yang tersebar di berbagai wilayah.

Peran dalam Melestarikan Kebudayaan Pemerintah setempat, terutama di Kabupaten Parigi Moutong, memberikan perhatian khusus terhadap pelestarian budaya Suku Lauje. Berbagai kegiatan, seperti festival budaya dan pelatihan bahasa daerah, sering diselenggarakan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya menjaga warisan leluhur.

Dengan keberagaman budaya dan tradisi yang dimiliki, Suku Lauje menjadi bagian penting dalam mozaik budaya Indonesia. Keunikan mereka tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga memberikan warna tersendiri bagi kekayaan budaya nasional.

 

Selasa, 15 April 2025

Desa Kaili

 



Sumber : DISINI

Bahasa Tombatu

 

Bahasa Tombatu dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Olobaru, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.


Sumber : DISINI

Bahasa Totoli

 

Asal Bahasa Totoli berada di Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Bolano, Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong; (2) Desa Salugan, Kecamatan Lampasio, Kabupaten Toli-Toli; (3) Desa Dadakitan, Kecamatan Baolan, Kabupaten Toli-Toli; (4) Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan, Kabupaten Toli-Toli;


Sumber : DISINI

Bahasa Taa

 

Tanah asal bahasa Taa berada di Kabupaten Poso dan Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Salukaia, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso; (2) Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso; (3) Desa Sansarino, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una; (4) Desa Pancuma, KecamatanTojo, Kabupaten Tojo Una Una; (5) Desa Kabalo, Kecamatan Tojo Barat, Kabupaten Tojo Una-Una; (6) Desa Toniasa, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una; (7) Desa Wakai, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una; dan (8) Desa Lemo, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

 

Bahasa Taa terdiri atas tujuh dialek, yaitu (1) dialek Rato dituturkan di Desa Salukaia, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso; (2) dialek Sedoa dituturkan di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso; (3) dialek Taa Sansarino dituturkan di Desa Sansarino, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una; (4) dialek Torau dituturkan di Desa Pancuma, Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una Una dan Desa Kabalo, Kecamatan Tojo Barat, Kabupaten Tojo Una-Una; (5) dialek Rampi dituturkan di Desa Toniasa, Kecamatan Ampana Kota, Kabupaten Tojo Una-Una; (6) dialek Togian dituturkan di Desa Wakai, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una; dan (7) dialek Taa Lemo dituturkan di Desa Lemo, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara. Persentase perbedaan antardialek tersebut berkisar antara 53%—78%.

 

Menurut pengakuan penduduk wilayah tutur bahasa Taa berbatasan dengan (i) wilayah tutur bahasa Pamona, bahasa Kaili, dan bahasa Bada di sebelah utara; (ii) wilayah tutur bahasa Bada dan bahasa Pamona di sebelah timur; (iii) wilayah tutur bahasa Bada dan bahasa Pamona di sebelah selatan; dan (iv) wilayah tutur bahasa Bada dan bahasa Kulawi di sebelah barat.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Taa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah, misalnya dibandingkan dengan bahasa Pamona dan bahasa Kaili.

Bahasa Seko

 

Bahasa Seko dituturkan oleh masyarakat yang berada di Desa Watukilo, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk bahasa Seko di Desa Watukilo berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Pipikoro di sebelah utara dan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Besoa di sebelah selatan. Adapun di sebelah timur Desa Watukilo merupakan wilayah persawahan.

 

 Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Seko merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah, seperti bahasa Kaili dan bahasa Kulawi.

Bahasa Sangihe Talaud

 

               

Bahasa Sangihe Talaud dituturkan oleh masyarakat di Desa Laonggo, Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Sangihe Talaud  merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan bahasa Balantak dan Saluan.

Bahasa Saluan

 

Bahasa Saluan dituturkan oleh masyarakat yang berada di (1) Desa Gonohop, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai; (2) Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai; (3) Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala; (4) Desa Kalia, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una; (5) Desa Lembanato, Kecamatan Togean,Kabupaten Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Saluan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Taa di sebelah utara dan barat.

 

Bahasa Saluan terdiri atas empat dialek, yaitu (1) dialek Saluan Gonohop yang dituturkan di Desa Gonohop, Kecamatan Simpang Raya, Kabupaten Banggai; (2) dialek Saluan Kintom yang dituturkan di Kelurahan Tolando, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai dan Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala; (3) dialek Saluan Kalia yang dituturkan di Desa Kalia, Kecamatan Talatako, Kabupaten Tojo Una-Una; (4) dialek Bobongko yang dituturkan di Desa Lembanato, Kecamatan Togean,Kabupaten Tojo Una-Una. Persentase perbedaan antarkeempat dialek tersebut berkisar antara 56%—74%.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Saluan merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah, misalnya dibandingkan dengan bahasa Taa (Ta’a) dan Pamona.

Bahasa Pipikoro

 

Bahasa Pipikoro merupakan bahasa yang dituturkan di (1) Desa Peana, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi; dan (2) Desa Salutome, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Pipikoro berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Seko di sebelah timur dan dengan wilayah tutur bahasa Besoa di sebelah selatan.

 

Bahasa Pipikoro memiliki dua dialek, yaitu dialek Uma dan Rampi Salutome. Persentase perbedaan antarkedua dialek tersebut sebesar 75,5%. Dialek Uma dituturkan di Desa Peana, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi. Sementara itu, dialek Rampi Salutome dituturkan di Desa Salutome, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi.

 

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Pipikoro merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 80%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Sulawesi Tengah, misalnya dibandingkan dengan bahasa Kaili dan Balaesang.

Bahasa Pamona

 

Bahasa Pamona dituturkan oleh masyarakat yang berada di Kabupaten Morowali Utara, Poso, dan Tojo Una-Una, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso; (2) Desa Watuawu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso; (3) Kelurahan Madale, Kecamatan Poso Kota Utara, Kabupaten Poso; (4) Desa Peura, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso; (5) Desa Mayakeli, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso; (6) Desa Tinompo, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara; (7) Desa Kasingoli, Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara; (8) Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una; (9) Desa Benteng, KecamatanTogean, Kabupaten Tojo Una Una, Sulawesi Tengah.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri,bahasa ini memiliki tujuh dialek, yaitu Salumange, Pamona Poso, Mori Padoe, Mori Ngusumbatu, Baree (Bare’e) Longge, Baree (Bare’e) Benteng, dan Mori atas. Persentase Perbedaan antardialek itu berkisar antara 53%—76%. Dialek Salumange dituturkan di Desa Pandayora, Kecamatan Pamona Selatan, Kabupaten Poso dan Desa Watuawu, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso. Dialek Pamona Poso dituturkan di Kelurahan Madale, Kecamatan Poso Kota Utara, Kabupaten Poso dan Desa Peura, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso. Dialek Mori Padoe dituturkan di Desa Mayakeli, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso. Dialek Mori Ngusumbatu dituturkan di Desa Tinompo, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara. Dialek Bare (Bare’e) Longge dituturkan di Desa Longge, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una. Dialek Bare (Bare’e) Benteng dituturkan di Desa Benteng, Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una. Dialek Mori atas dituturkan di Desa Kasingoli, Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara.

 

Selain dituturkan di Sulawesi Tengah, bahasa Pamona juga dituturkan di Sulawesi Selatan, yaitu di Desa Bayondo, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur. Hasil penghitungan dialektometri yang membandingkan bahasa Pamona di Sulawesi Tengah dengan bahasa Pamona di Sulawesi Selatan menunjukkan adanya perbedaan dialek dengan persentase perbedaan sebesar 72,75%.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa isolek Pamona merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan bahasa Taa (Ta’a) dan Pipikoro.

Bahasa Lauje Malala

 

Bahasa Lauje Malala merupakan bahasa yang dituturkan di Desa Malala, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini pada mulanya merupakan isolek Lauje. Akan tetapi, penghitungan dialektometri bahasa Dondo dialek Lauje dengan bahasa Lauje Malala menunjukkan perbedaan sebesar 85% (beda bahasa). Oleh karena itu, isolek Lauje yang terdapat di Desa Malala, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli ditetapkan sebagai bahasa yang berbeda dari isolek Lauje yang terdapat di Desa Bobalo, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong dan Desa Ogowele, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli. Penamaan bahasa Lauje Malala diambil dari nama desa tempat isolek Lauje itu dituturkan.

 

Menurut pengakuan penduduk, di sebelah utara, selatan, barat, dan timur wilayah tutur bahasa Lauje Malala berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Dondo. Isolek Lauje Malala merupakan sebuah bahasa karena terdapat persentase perbedaan berkisar antara 81%—97% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah, misalnya bahasa Dondo dan Totoli.

Bahasa Kulawi

 

Bahasa Kulawi merupakan bahasa yang bertanah asaldi Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi; (2) Desa Tomado, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi; (3) Desa Pantolobete, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk, di sebelah timur wilayah tutur bahasa Kulawi berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Pipikoro dan bahasa Bugis; di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kaili.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, bahasa Kulawi memiliki tiga dialek, yaitu sebagai berikut. (1) Dialek Moma dituturkan di Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Dialek ini merupakan dialek standar karena selain dituturkan di pusat pemerintahan (ibu kota Kecamatan), sebaran geografisnya luas, dan jumlah penuturnya lebih besar, dialek Moma juga digunakan dalam media massa cetak dan elektronik. (2) Dialek Tado Tomado dituturkan di Desa Tomado, Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi. (3) Dialek Tado Pantolobete dituturkan di Desa Pantolobete, Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala.

 

Isolek Moma, Tado Tomado, dan Tado Pantolobete merupakan dialek yang berbeda dari bahasa yang sama karena penghitungan dialektometri ketiganya memiliki perbedaan berkisar antara 64%—67%. Bahasa Kulawi juga memiliki perbedaan dialek dengan Kaili, yaitu 79,5%. Meskipun demikian, Kaili tidak dimasukkan sebagai dialek bahasa Kulawi karena penghitungan dialektometri Kaili lebih berkerabat dengan subdialek Ija (yang merupakan subdialek Taa dan Taa merupakan salah satu dialek bahasa Kaili) dengan persentase yang hanya mencapai 49,25% (beda subdialek).

Bahasa Kaili

 

Bahasa Kaili merupakan bahasa yang bertanah asal di Kabupaten Donggala, Parigi, dan Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong; (2) Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong; (3) Desa Petapa, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong; (4) Desa Sidole, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong; (5) Kelurahan Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu; (6) Kelurahan Kayumalue Pajeko, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu; (7) Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu; (8) Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu; (9) Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu; (10) Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi; (11) Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; (12) Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi; (13) Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi; (14) Desa Waturalele, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi; (15) Desa Lebanu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi; (16) Desa Uwemanje, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi; (17) Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; (18) Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi; (19) Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala; (20) Desa Mbuwu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala; (21) Desa Lende, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala; (22) Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (23) Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (24) Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala; (25) Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (26) Desa Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala; (27) Desa Enu, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (28) Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

 

Menurut pengakuan penduduk, di sebelah utara wilayah tutur bahasa Kaili berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis dan bahasa Bada; di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bada dan bahasa Jawa; di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis; dan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis, bahasa Bali, dan bahasa Sangihe Talaud.

 

Berdasarkan penghitungan dialektometri bahasa ini memiliki sepuluh dialek, yaitu (1) dialek Tara dituturkan di Desa Olaya, Kecamatan Parigi dan Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong; Kelurahan Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu; Desa Tinggede, Kecamatan Marawola dan Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; (2) dialek Taje dituturkan di Desa Petapa, Kecamatan Parigi Tengah dan Desa Sidole, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong; (3) dialek Ledo dituturkan di Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur; Kelurahan Kayumalue Pajeko, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu; Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo dan Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi; Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala; Dialek Ledo ini merupakan dialek yang paling banyak penuturnya dibandingkan dengan kesembilan dialek yang lain. Dialek Ledo merupakan dialek standar karena selain dituturkan di pusat pemerintahan/ibu kota provinsi, sebaran geografisnya luas dan jumlah penuturnya lebih besar, dialek Ledo juga digunakan dalam media massa cetak dan elektronik; (4) dialek Daa dituturkan di Desa Panturabate, Kecamatan Dolo; Desa Uwemanje, Kecamatan Kinovaro; Desa Lebanu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi; dan Desa Mbuwu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala; (5) Dialek Rai dituturkan di Desa Lende, Kecamatan Sirenja; Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi; Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu; dan Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso; (6) dialek Unde dituturkan di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu dan Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (7) dialek Unde Kabonga dituturkan di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala; (8) dialek Kori dituturkan di Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (9) dialek Njedu dituturkan di Desa Enu, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (10) Dialek Pendau dituturkan di Desa Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala.

 

Ledo, Taje, Rai, Daa (Da’a), Tara, Unde, Unde Kabonga, Kori, Njedu, dan Pendau merupakan dialek yang berbeda dari bahasa yang sama karena penghitungan dialektometri menunjukkan adanya perbedaan yang berkisar antara 51%—75%. Bahasa Kaili juga memiliki perbedaan dialek dengan Sedoa, Bada, Togian, Bare’e (Bare’e), Pamona, Saluan, dan Tado (perbedaannya berkisar antara 71%—79%).

 

Pembagian bahasa Kaili menjadi sepuluh dialek ini berbeda dengan yang dikemukakan Evansdan Wumbu dkk. Evans (1990) membagi dialek bahasa Kaili menjadi lima, yaitu (1) Ledo merupakan subdialek Doi; (2) Ada merupakan subdialek Edo dan Tado; (3) Daa merupakan subdialek Inde, Unde, dan Ende; (4) Ija merupakan subdialek Taa; dan (5) Rai merupakan subdialek Tara. Wumbu dkk. (1986) mengemukakan bahwa Kaili, Pendau, dan Njedu merupakan tiga bahasa yang berbeda, yakni bahasa Kaili, bahasa Pendau, dan bahasa Njedu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Wumbu dkk.

Bahasa Dondo

 

Bahasa Dondo merupakan bahasa yang bertanah asal di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Moutong Timur, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong; (2) Desa Bobalo, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong; (3) Desa Tinabogan, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli; (4) Desa Tampiala, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Toli-Toli; (5) Desa Malomba, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli; (6) Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Toli-Toli; (7) Desa Ogowele, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli; (8)Desa Talaga, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk di sebelah utara wilayah tutur bahasa Dondo berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kaili; di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis; di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Gorontalo; dan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis dan bahasa Kaili.

 

Bahasa Dondo terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Tialo dituturkan di Desa Moutong Timur, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong; (2) dialek Dondo Toli-Toli dituturkan di Desa Tinabogan dan Desa Malomba, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli; (3) dialek Dampelas dituturkan di Desa Talaga, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala; (4) dialek Dampal dituturkan di Desa Tampiala dan Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Toli-Toli; dan (5) Dialek Lauje dituturkan di Desa Bobalo, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong dan Desa Ogowele, Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli. Persentase perbedaan antardialek tersebut berkisar antara 63%—77%.

 

Isolek Tialo, isolek Dondo Toli-Toli, isolek Dampelas, isolek Dampal, dan isolek Lauje diidentifikasi sebagai dialek yang berbeda dari bahasa yang sama karena secara kuantitatif isolek-isolek itu memiliki perbedaan dialek dengan tingkat perbedaan berkisar 63%—77%. Bahasa Dondo juga memiliki perbedaan dialek dengan isolek Balaesang, isolek Toli-Toli, dan isolek Pendau (perbedaannya berkisar 78%—79%). Meskipun demikian, ketiganya tidak dimasukkan sebagai dialek bahasa Dondo karena secara kuantitatif isolek-isolek itu lebih berkerabat dengan bahasa Balaesang, Totoli, dan Kaili (perbedaannya berkisar antara 75%—76%). Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Dondo merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sekitar 85%--91% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan bahasa Buol dan bahasa Totoli.

 

Pembagian bahasa Dondo menjadi lima dialek ini berbeda dengan yang dikemukakan Wumbu dkk. Wumbu dkk. (1986) mengemukakan bahwa dialek Tialo, dialek Dampelas, dan dialek Lauje merupakan bahasa yang berdiri sendiri dan berbeda dari bahasa Dondo. Jadi, Tialo, Dampelas, Lauje, dan Dondo merupakan empat bahasa yang berbeda. Bahasa Tialo dituturkan di Kecamatan Moutong dan Tomini, Kabupaten Parigi Moutong dan didukung oleh 42.735 jiwa; bahasa Dampelas (Dampelas-Sojol) dituturkan di Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala serta Kecamatan Dondo dan Galang, Kabupaten Toli-Toli yang didukung oleh 250 jiwa; bahasa Lauje dituturkan di Kecamatan Moutong, Tinombo, Tomini, Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong dan Kecamatan Dondo, Kabupaten Toli-Toli.

Bahasa Buol

 

Bahasa Buol merupakan bahasa yang bertanah asal di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Pomayagon, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol; (2) Desa Bokat, Kecamatan Bokat, Kabupaten Buol; (3) Desa Leok I, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.

 

Bahasa ini terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Buol Pomayagon dan (2) dialek Buol Bokat. Dialek Buol Pomayagon dituturkan di Desa Pomayagon, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol, sedangkan dialek Buol Bokat dituturkan di Desa Bokat, Kecamatan Bokat dan Desa Leok I, Kecamatan Biau, Kabupaten Buol. Buol Pomayagon dan Buol Bokat digolongkan sebagai bahasa yang sama, tetapi merupakan dialek yang berbeda karena berdasarkan penghitungan dialektometri tingkat perbedaan antara keduanya hanya mencapai 65,3%.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Buol merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan sekitar 82%—93% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah, misalnya dibandingkan dengan bahasa Dondo dan bahasa Totoli.

Bahasa Bungku

 

Bahasa Bungku merupakan bahasa yang bertanah asal di Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Kelurahan Lawanga, Kecamatan Poso Kota Utara, Kabupaten Poso; (2) Kelurahan Ulunambo, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali; (3) Desa Parilangke, Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali; (4) Desa Bahodopi, KecamatanBahodopi, Kabupaten Morowali; (5) Desa Korowou, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara; (6) Desa Wawopada, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara; dan (7) Desa Tiu, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

 

Berdasarkan penghitungan dialektometri, bahasa Bungku memiliki tujuh dialek, yaitu (1) dialek Menui Lawangsa, (2) dialek Menui Ulunambo, (3) dialek Molongkum, (4) dialek Bungku Parilangke, (5) dialek Torete, (6) dialek Moiki, dan (7) dialek Kangua. Dialek Menui Lawangsa (Menui Lawanga) dituturkan di Kelurahan Lawanga, Kecamatan Poso Kota Utara, Kabupaten Poso. Dialek Menui Ulunambo dituturkan di Kelurahan Ulunambo, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali. Dialek Molongkum dituturkan di Desa Wawopada, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara. Dialek Bungku Parilangke dituturkan di Desa Parilangke, Kecamatan Bumi Raya, Kabupaten Morowali. Dialek Torete dituturkan di Desa Bahodopi, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali. Dialek Moiki dituturkan di Desa Korowou, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara. Dialek Kangua dituturkan di Desa Tiu, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara.

 

Dialek Menui dialek Lawangsa, dialek Menui Ulunambo, dialek Molongkum, dialek Bungku Parilangke, dialek Torete, dialek Moiki, dan dialek Kangua merupakan dialek yang berbeda dengan persentase perbedaan berkisar antara 60%—75%. Sementara itu, bahasa Bungku juga memiliki perbedaan dialek dengan isolek Mori, tetapi isolek Mori tidak dimasukkan sebagai dialek bahasa Bungku karena berdasarkan penghitungan dialektometri isolek Mori lebih dekat dengan dialek Torete (salah satu dialek bahasa Bungku). Bahasa Bungku dengan isolek Mori memiliki perbedaan dialek sebesar 75,25%, sedangkan dengan dialek Torete perbedaannya lebih kecil, yaitu sebesar 63,25%.

Bahasa Bugis

 

Bahasa Bugis dituturkan oleh masyarakat (1) Desa Wani Satu, Wani Dua, dan Wani Tiga, Kecamatan Tanantovea, KabupatenDonggala; (2) Desa Kayowa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai; (3) Desa Pomayagon, Kecamatan Momunu, Kabupaten Buol; dan (4) Desa Bokat, Kecamatan Bokat dan Kelurahan Leok I, Kecamatan Biau, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Bahasa Bugis di Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas empat dialek, yaitu (1) dialek Wani yang dituturkan di Desa Wani Satu, Wani Dua, dan Wani Tiga, Kecamatan Tanantovea; (2) dialek Bugis Kayowa yang dituturkan di Desa Kayowa; (3) dialek Buol Pomayagon (Bugis Pomayagon) yang dituturkan di Desa Pomayagon; (4) dialek Buol Bokat (Bugis Bokat) yang dituturkan di Desa Bokat, Kecamatan Bokat dan Kelurahan Leok I.

 

          Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bugis merupakan bahasa tersendiri dengan persentase perbedaan berkisar 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang ada di Sulawesi Tengah.

Bahasa Besoa

 

Bahasa Besoa dituturkan oleh masyarakat Desa Hangira, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk, wilayah tutur bahasa Besoa berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bada di sebelah barat.

 

Berdasarkan penghitungan dialektometri, bahasa Besoa memiliki perbedaan dialek dengan isolek Taa dengan persentase perbedaan sebesar 79,75%. Namun, berdasarkan pengakuan penutur kedua, isolek Besoa dan isolek Taa) serta bukti kualitatif berupa korespondensi bunyi, isolek Besoa dan Taa merupakan dua bahasa yang berbeda.

 

Sementara itu, berdasarkan hasil penghitungan dialektometri isolek Besoa merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 88%--90% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Sulawesi Tengah.

Bahasa Banggai

 

Bahasa Banggai merupakan bahasa yang diduga bertanah asal di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di Desa Lalengan, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan; (2) Desa Palam, Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan; (3) Desa Taduno, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut; (4) Desa Lambako, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut; (5) Desa Palabatu I, Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupatan Banggai Laut, Sulawesi Tengah. 

 

Hasil penghitungan dialektometri menunjukkan bahwa bahasa Banggai memiliki empat dialek, yakni (1) dialek Daratan, (2) dialek Taduno, (3) dialek Lambako, dan (4) dialek Palabatu. Persentase perbedaan antarkeempat dialek tersebut berkisar antara 55%—57,75%. Dialek Daratan dituturkan di Desa Lalengan, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan dan Desa Palam, Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan. Dialek Taduno dituturkan di Desa Taduno, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut. Dialek Lambako dituturkan di Desa Lambako, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut. Dialek Palabatu dituturkan di Desa Palabatu I, Kecamatan Bulagi Selatan, Kabupaten Banggai Laut.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Banggai merupakan bahasa tersendiri dengan persentase perbedaan berkisar antara 81%—100% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang ada di Sulawesi Tengah.

Bahasa Balantak

 

Bahasa Balantak ditemukan di (1) Desa Tangeban, Kecamatan Masama, Kabupaten Banggai; (2) Desa Dolom, Kecamatan Lobu, Kabupaten Banggai; dan (3) Desa Sobol, Kecamatan Mantoh, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Berdasarkan penghitungan dialektometri bahasa Balantak memiliki dua dialek, yaitudialek Masama dan dialek Balantak Banggai. Persentase perbedaan antardialek tersebut sebesar 70,25%.Dialek Masama dituturkan di Desa Tangeban, Kecamatan Masama, Kabupaten Banggai, sedangkan dialek Balantak Banggai dituturkan di Desa Dolom, Kecamatan Lobu dan di Desa Sobol, Kecamatan Mantoh, Kabupaten Banggai.

 

Bahasa Balantak juga memiliki kedekatan dengan isolek Saluan, tetapi Saluan tidak dimasukkan sebagai dialek bahasa Balantak karena berdasarkan hasil penghitungan dialektometri,isolek Saluan lebih dekat dengan isolek Bobongko. Bahasa Balantak dengan isolek Saluan memiliki perbedaan sebesar 77,25%. Hal itu berarti bahwa secara kuantitatif isolek Saluan merupakan dialek dari bahasa Balantak, tetapi persentase perbedaan Saluan dengan isolek Bobongko lebih sedikit jika dibandingkan dengan bahasa Balantak, yaitu sebesar 74%. Di lain pihak, Bobongko dengan Balantak memiliki perbedaan pada tingkat beda bahasa dengan Babongko sehingga dapat disimpulkan bahwa Saluan merupakan bahasa tersendiri dan Babongko merupakan dialek dari bahasa Saluan.

Bahasa Balaesang

 

Bahasa Balaesang diduga memiliki tanah asal di Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Ketong dan Kamonji, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala; (2) Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala; dan (3) Desa Kasimbar, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Menurut pengakuan penduduk di sebelah utara wilayah tutur bahasa Balaesang berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kaili; di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kaili dan bahasa Bajo; serta di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Kaili dan bahasa Bugis.

 

Secara kuantitatif bahasa Balaesang memiliki perbedaan dialek dengan isolek Balesang Donggala, Tajio, Kasimbar, Ledo, Lauje, Dampelas, Unde, Dondo, Njedu, dan Pendau dengan persentase perbedaan di bawah 80%. Namun, dari sepuluh isolek itu terdapat beberapa isolek yang secara kualitatif dapat dikategorikan sebagai bahasa yang berbeda karena memiliki bukti kualitatif berupa korespondensi bunyi. Kesepuluh isolek tersebut dapat diidentifikasi sebagai tiga bahasa yang berbeda, yaitu bahasa Balaesang, Kaili, dan Dondo.

 

Bahasa Balaesang memiliki tiga dialek, yaitu dialek Balaesang Donggala, dialek Tajio, dan dialek Kasimbar.Ketiga dialek tersebut diidentifikasi sebagai bahasa yang sama, tetapi merupakan dialek yang berbeda karena secara kuantitatif ketiganya memiliki perbedaan berkisar antara 75%—78%. Dialek Balaesang Donggala dituturkan di Desa Ketong dan Desa Kamonji, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala. Dialek Tajio dituturkan di Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala dan dialek Kasimbar dituturkan di Desa Kasimbar, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong.

Bahasa Bajo

 

Bahasa Bajo dituturkan oleh masyarakat di (1) Desa Bajo, Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong; (2) Desa Meli, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala; (3) Desa Santigi, Kecamatan ToliToli Utara, Kabupaten ToliToli; (4) Desa Laulalang, Kecamatan ToliToli Utara, Kabupaten ToliToli; (5) Desa Jaya Bakti, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai; (6) Desa Kolo Bawah, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara; dan (7) Desa Buajangka, Kecamatan Bungku Selatan, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Selain di Sulawesi Tengah, bahasa Bajo juga ditemukan di Provinsi Gorontalo, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Maluku. Selain itu, bahasa Bajo juga ditemukan di luar wilayah nusantara, yaitu di Sabah (Malaysia) dan Philipina bagian Selatan.

 

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Bajo yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Torosiaje (Gorontalo) dengan Desa Rajuni (Sulawesi Selatan) menunjukkan perbedaan dialek dengan persentase perbedaan sebesar 72,50%. Selanjutnya, isolek Bajo yang dituturkan oleh masyarakat di Desa Santiri (Sulawesi Tenggara) dengan Desa Sapekan (Jawa Timur) menunjukkan persentase perbedaan sebesar 76,25% (beda dialek); dengan Desa Santigi (Sulawesi Tengah) menunjukkan persentase perbedaan sebesar 75,75% (beda dialek); dengan Desa Buajangka (Sulawesi Tengah) menunjukkan persentase perbedaan sebesar 78% (beda dialek); dengan Desa Torosiaje (Gorontalo) menunjukkan persentase perbedaan sebesar 73,75% (beda dialek); dengan Desa Rajuni (Sulawesi Selatan) menunjukkan persentase perbedaan sebesar 78,25% (beda dialek); dengan NTB menunjukkan persentase perbedaan sebesar 67,50% (beda dialek); dan dengan NTT menunjukkan persentase perbedaan sebesar 67% (beda dialek).

Bahasa Bada

 

Bahasa Bada dituturkan di (1) Desa Maholo, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso; (2) Desa Badangkaia, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso; dan (3) Desa Ampibabo, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

          Secara kuantitatif bahasa Bada terdiri atas dua dialek, yaitu (1) dialek Napu dan (2) dialek Bada Tiara. Dialek Napu dituturkan di Desa Maholo, Kecamatan Lore Timur dan Desa Badangkaia, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Sementara itu, dialek Bada Tiara dituturkan di Desa Ampibabo, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong. Dialek Bada Tiara dan Napu dianggap sebagai satu bahasa karena kedua isolek itu secara kuantitatif menunjukkan adanya perbedaan dialek dengan persentase perbedaan berkisar antara 51%—55%. Bahasa Bada juga memiliki perbedaan dialek dengan isolek Kaili (78,75%) dan isolek Taa (77,25%). Meskipun demikian, bahasa Bada diidentifikasi sebagai bahasa yang berbeda dengan bahasa Kaili dan bahasa Taa karena ketiganya memiliki perbedaan secara kualitatif untuk menjadi bahasa yang berbeda.

 

Hasil penghitungan dialektometri juga menunjukkan bahwa bahasa Bada memiliki perbedaan dialek dengan isolek Da’a, Inde, Unde, Ija, Rai, Rato, Sedoa, Torau, Rampi, dan Togian dengan persentase perbedaan berkisar antara 72%—80%. Akan tetapi, isolek-isolek itu tidak dimasukkan sebagai dialek bahasa Bada karena semua isolek tersebut secara kuantitatif lebih dekat dengan bahasa Kaili dan bahasa Taa dengan persentase perbedaan antara 49%—67%.

Peta Bahasa di Sulawesi

 







Bahasa dan Peta Bahasa Kaili

 


Bahasa Kaili merupakan bahasa yang bertanah asal di Kabupaten Donggala, Parigi, dan Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Bahasa ini dituturkan di (1) Desa Olaya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong; (2) Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong; (3) Desa Petapa, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong; (4) Desa Sidole, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong; (5) Kelurahan Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu; (6) Kelurahan Kayumalue Pajeko, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu; (7) Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu; (8) Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu; (9) Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu; (10) Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi; (11) Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; (12) Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi; (13) Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi; (14) Desa Waturalele, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi; (15) Desa Lebanu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi; (16) Desa Uwemanje, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi; (17) Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; (18) Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi; (19) Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala; (20) Desa Mbuwu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala; (21) Desa Lende, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala; (22) Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (23) Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (24) Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala; (25) Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (26) Desa Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala; (27) Desa Enu, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (28) Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

 

Menurut pengakuan penduduk, di sebelah utara wilayah tutur bahasa Kaili berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis dan bahasa Bada; di sebelah timur berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bada dan bahasa Jawa; di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis; dan di sebelah barat berbatasan dengan wilayah tutur bahasa Bugis, bahasa Bali, dan bahasa Sangihe Talaud.

 

Berdasarkan penghitungan dialektometri bahasa ini memiliki sepuluh dialek, yaitu (1) dialek Tara dituturkan di Desa Olaya, Kecamatan Parigi dan Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong; Kelurahan Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu; Desa Tinggede, Kecamatan Marawola dan Desa Sibalaya Selatan, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; (2) dialek Taje dituturkan di Desa Petapa, Kecamatan Parigi Tengah dan Desa Sidole, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong; (3) dialek Ledo dituturkan di Kelurahan Lolu Utara, Kecamatan Palu Timur; Kelurahan Kayumalue Pajeko, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu; Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo dan Desa Sintuwu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi; Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala; Dialek Ledo ini merupakan dialek yang paling banyak penuturnya dibandingkan dengan kesembilan dialek yang lain. Dialek Ledo merupakan dialek standar karena selain dituturkan di pusat pemerintahan/ibu kota provinsi, sebaran geografisnya luas dan jumlah penuturnya lebih besar, dialek Ledo juga digunakan dalam media massa cetak dan elektronik; (4) dialek Daa dituturkan di Desa Panturabate, Kecamatan Dolo; Desa Uwemanje, Kecamatan Kinovaro; Desa Lebanu, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi; dan Desa Mbuwu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala; (5) Dialek Rai dituturkan di Desa Lende, Kecamatan Sirenja; Desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; Desa Sibowi, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi; Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi; Kelurahan Baiya, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu; dan Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso; (6) dialek Unde dituturkan di Kelurahan Watusampu, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu dan Desa Dalaka, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (7) dialek Unde Kabonga dituturkan di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala; (8) dialek Kori dituturkan di Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (9) dialek Njedu dituturkan di Desa Enu, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala; (10) Dialek Pendau dituturkan di Desa Tambu, Kecamatan Balaesang, Kabupaten Donggala.

 

Ledo, Taje, Rai, Daa (Da’a), Tara, Unde, Unde Kabonga, Kori, Njedu, dan Pendau merupakan dialek yang berbeda dari bahasa yang sama karena penghitungan dialektometri menunjukkan adanya perbedaan yang berkisar antara 51%—75%. Bahasa Kaili juga memiliki perbedaan dialek dengan Sedoa, Bada, Togian, Bare’e (Bare’e), Pamona, Saluan, dan Tado (perbedaannya berkisar antara 71%—79%).

 

Pembagian bahasa Kaili menjadi sepuluh dialek ini berbeda dengan yang dikemukakan Evans dan Wumbu dkk. Evans (1990) membagi dialek bahasa Kaili menjadi lima, yaitu (1) Ledo merupakan subdialek Doi; (2) Ada merupakan subdialek Edo dan Tado; (3) Daa merupakan subdialek Inde, Unde, dan Ende; (4) Ija merupakan subdialek Taa; dan (5) Rai merupakan subdialek Tara. Wumbu dkk. (1986) mengemukakan bahwa Kaili, Pendau, dan Njedu merupakan tiga bahasa yang berbeda, yakni bahasa Kaili, bahasa Pendau, dan bahasa Njedu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Wumbu dkk.


Sumber : DISINI

۞ MEDIA - SOSIAL ۞