Melihat Lebih Dekat Kemajuan Suku
Lauje
Suku di Sulawesi Tengah - Suku
Lauje termasuk suku yang memiliki penyebaran yang luas. Semakin bertambah dan
makin maju dari sebelumnya.
Penulis merasa perlu
mempublikasikan di blog ini agar sahabat mengetahui bahwa ada suku di Sulawesi
Tengah bernama Suku Lauje "Tope Lauje" atau "Orang Lauje"
juga sering di sebut "Orang Bela" yang banyak mengalami perkembangan
hingga saat ini.
suku-lauje
Izinkan penulis menginformasikan
bahwa, penulis lahir di Tinombo yaitu ibu kota kecamatan Tinombo yang merupakan
salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Parigi Moutong. Sebelumnya
penulis menetap di Desa Bobalo, sekitar
7 km dari Tinombo. Penulis tumbuh dan besar di lingkungan Suku Lauje sehingga
penulis melihat langsung dan memahami bagaimana kehidupan Suku Lauje.
Asal Usul Suku Lauje
Suku Lauje sebenarnya masih
termasuk dalam rumpun Suku Tialo dan dapat dikatakan bagian dari suku-suku di
Kecamatan Tomini. Atau bisa disebut bagian Suku Tomini. Olehnya itu sejumlah
kosa kata bahasa Lauje memiliki kesamaan arti atau dituturkan sama dengan
bahasa Tialo. Misalnya dalam bahasa Lauje mengatakan "besar" =
"basage", begitupun bahasa Tialo. Arti kata "Lauje" sendiri
adalah "tidak" dalam Bahasa Lauje.
Jika di tesuri lebih dalam,
bahasa Lauje merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia dan Bahasa
Melayu-Polinesia Barat. Bahasa Autronesia ini memiliki penyebaran yang luas
mencakup hingga wilayah Taiwan, Hawai, Selandia Baru, Madagaskar dan Pulau
Paskah. Bisa sahabat bayangkan! betapa
luasnya rumpun bahasa Austronesia.
Secara historis, Suku Lauje
mulanya berasal dari keturunan Yongko Umur. Kemudian Yongko Umur menghasilkan
dua keturunan yaitu laki-laki bernama Olongian atau Ilah Ta'ala dan perempuan
bernama Nur Ilah. Menurut kepercayaan mereka, Olongian atau Ilah Ta'ala
bertempat di alam atas atau di Langit sedangkan Nur Ilah bertempat di alam
bawah atau di Bawah Tanah. Dari keturunan keduannya inilah menghasilkan Suku
Lauje saat ini.
Kehidupan Ekonomi Suku Lauje
Suku Lauje umumnya bekerja di
ladang. Mereka menanam padi dan Jagung sebagai tanaman utama. Selain itu mereka
juga menanam sayur-sayuran dengan sistim berpindah-pindah. Hal ini karena dulu
relatif belum ada kepemilikan lahan yang sifatnya tetap. Selain itu mereka juga
bekerja sebagai nelayan dan beternak.
Jika berdasarkan penjelasan dari
tokoh masyarakat sekaligus seorang Anggota DPRD yang memahami kehidupan Suku
Lauje sebagaimana dilansir dalam Radar Sulteng (Minggu,16/02/2020) menilai
bahwa Suku Lauje bukan termasuk petani ladang berpindah namun lebih tepat
disebut petani berotasi. Hal ini menurutnya karena berpindah dari titik awal
kemudian balik ke titik semula. Artinya ada recovery lahan (lahan di
istrahatkan) baru kemudian di garap kembali.
Dalam perkembangan selanjutnya,
bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai biasanya menanam Ubi Jalar, Pisang,
Mangga, Pepaya dan sayur-sayuran. Diwaktu-waktu tertentu mereka juga mengambil
damar, rotan, kemiri, membuat kerajinan, berburu dan beternak. Suku Lauje mampu
bertahan hidup di musim paceklik dengan mengkonsumsi Ubi Jalar atau Unggayu,
Ubi Hutan atau Ondot.
Setelah sekian lama menggunakan
sistim berpindah atau berotasi, maka Suku Lauje khususnya yang berada di
wilayah Parigi Moutong mulai tahun 1980-an menanam tanaman yang bersifat jangka
panjang. Mereka menanam Kelapa, Kakao dan Cengkeh. Hasilnya mereka jual untuk
memenuhi kebutuhan keluarga. Sejak itu perlahan-lahan kegiatan ekonomi mulai
berjalan walaupun masih sederhana.
10 Perkembangan Suku Lauje
Suku Lauje sering di kategorikan
sebagai suku terasing khususnya yang masih mendiami daerah pegunungan dan
pedalaman. Sedikit demi sedikit mulai diberdayakan. Upaya ini dilakukan melalui
berbagai program pemberdayaan sejalan dengan silih bergantinya kepimpinan di
Kabupaten Parigi Moutong.
Dimasa kepemimpinan Bupati
Samsurizal Tombolotutu, penguatan dan pemberdayaan Suku Lauje semakin intens di
lakukan. Hal ini karena keinginan untuk memberdayakan putra-putri daerah agar
nantinya memiliki kehidupan yang lebih maju, sejajar dengan suku-suku lain yang
ada di daerah ini. Berdasarkan perkembangan yang ada, paling tidak ada 10
perkembangan Suku Lauje yang nampak saat ini.
1. Suku Lauje Telah Berbaur
Sebenarnya sebagian Suku Lauje
yang mendiami pegunungan di daerah Ogoalas Kecamatan Tinombo, telah
berinteraksi dengan orang asing atau berkebangsaan Kanada (Sebut: Orang
Kanada). Masih teringat ketika penulis duduk di Bangku SMA sekitar tahun
1991-1992, penulis dengan beberapa rekan pergi mengunjungi pemukiman Suku Lauje
yang telah berbaur dengan orang Kanada. Jaraknya cukup jauh menelusuri hutan
dengan jalan setapak.
Waktu itu kami berangkat pagi
hari sekitar pukul 08.00, mulai melakukan pendakian di sekitar Desa Ogoalas
yang terkenal cukup terjal. Kami kesulitan mendaki ketika itu, karena selain
medannya licin juga banyak tanjakan. Sepanjang perjalanan, kami harus bekerja
keras, saling membantu untuk bisa menaklukan sungai dan tebing yang curam.
Ketika perjalanan mendekati
pemukiman orang Kanada, kami menyaksikan langsung kehidupan moderen Suku Lauje
bersama orang Kanada. Kami sempat melihat beberapa peralatan mesin cuci yang
sudah rusak dan tidak terpakai tergeletak begitu saja. Saya menyadari bahwa
dikeluarga saya belum memiliki peralatan secanggih itu.
Karena jalannya yang cukup sulit,
kami bahkan melakukan perjalanan sampai malam hari. Kami sampai di pemukiman
suku Lauje sekitar pukup 07.00 yang langsung di sambut beberapa orang Kanada.
Setelah menjelaskan maksud kedatangan kami, akhirnya membantu kami, memberikan
selimut dan penerangan. Mereka juga mengizinkan untuk membuat perkemahan di
sekitar tempat tinggalnya. Bahkan meminta pakaian kami untuk di bersihkan
menggunakan mesin cuci. Luar biasa kehidupan disini! kata penulis dalam hati.
Baca Juga
Mencari Ketenangan: Rekomendasi
27 Tempat Wisata di Indonesia Untuk Meditasi dan Relaksasi
Seru-Seruan Wisata Pulau Seribu
Menjelajah di Surganya Dunia
10 Keunggulan Destinasi Wisata
Bambalemo Beach yang Membedakannya dengan yang Lain
Orang Kanada yang tinggal menetap
di daerah itu telah mampu berkomunikasi dengan Suku Lauje. Mereka bisa
menggunakan Bahasa Lauje maupun menggunakan Bahasa Indonesia yang benar. Bahkan
beberapa dari Suku Lauje sangat pandai Berbahasa Indonsia. Hal ini menunjukkan
bahwa Suku Lauje yang jauh dari kehidupan moderen ketika itu sudah berbaur dan
mengenal pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa kehadiran bangsa Kanada memberikan
kontribusi bagi kemajuan Suku Lauje.
Terlepas dari penjelasan di atas,
di hari-hari tertentu seperti hari pasar dan juga lebaran, Suku Lauje turun
dari pemukimannya dan berbaur dengan masyarakat yang berada di daerah Tinombo.
Penulis sering berkomunikasi dengan mereka tentunya dengan Bahasa Lauje. Jika
hari pasar tiba, mereka datang berbelanja di pasar, membeli pakaian dan bahan
makanan seperti beras, gula pasir, garam, minyak tanah dan lain-lain. Artinya
ketika itu banyak dari mereka telah memahami alat tukar atau mata uang.
Mereka bukan hanya sekedar berbelanja,
tetapi juga menjual hasil ladang seperti Ubi Jalar, Uji Kayu, Kayu Manis dan
lain-lain. Mereka juga menjual hasil peternkan seperti Ayam. Mereka layaknya
masyarakat yang sudah terbiasa berinteraksi dengan para penjual di pasar. Saat
ini mereka tidak ada bedanya dengan masyarakat biasa yang hidup di Tinombo.
Mereka berkomunikasi seperti biasa.
1. Berpedidikan
Saat ini banyak dari Suku Lauje
telah memiliki pendidikan. Bahkan banyak dari mereka berpendidikan tinggi. Sebagian menjadi aparat keamanan dan tenaga
pendidik. Tidak sedikit dari Suku Lauje telah bekerja di pemerintahan seperti
menjadi tenaga ASN dan anggota DPRD. Kehidupan mereka makin maju setara dengan
suku lain.
2. Mengenal Teknologi Informasi
Suku Lauje tidak dapat dikatakan
sebagai suku terasing lagi. Mungkin itu sesuai beberapa tahun yang lalu.
Sekarang banyak dari mereka layaknya seperti kebanyakan orang. Menggunakan
Handphone untuk berkomunikasi. Oleh karena itu dengan teknologi yang semakin
maju dan menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia, memungkinkan akses luar
biasa bagi kemajuan Suku Lauje.
3. Menggunakan Sarana
Transportasi
Jika dulu Suku Lauje harus
berjalan berjam-jam untuk pulang-pergi dalam aktifitas berbelanja. Sekarang ini
tidak demikian. Sebagian dari mereka telah menggunakan alat transportasi
seperti sepeda motor. Mereka menggunakan jasa ojek untuk alat transportasi.
Bahkan beberapa dari mereka telah
memiliki sepeda motor sendiri. Pemandangan ini kerap di saksikan ketika hari pasar
tiba. Di area pertokoan Tinombo biasanya selepas berbelanja, mereka mencari
tumpangan untuk kembali ke tempat tinggalnya.
4. Menjalin Komunikasi
Keakraban antara Suku Lauje yang
tinggal di pedalaman sudah mampu menjalin komunikasi yang baik dengan
saudaranya yang ada di hilir. Etika dan sopan santun nampak dari tutur kata
mereka. Memang sejak dulu Suku Lauje tidak banyak berkomunikasi. Mereka lebih
banyak berdiam diri dan hanya berkomunikasi jika diajak. Namun sekarang telah
berubah. Mereka saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan seringkali membantu
beberapa pekerjaan yang diberikan saudaranya.
5. Mengadu Nasib dan Tinggal di
Perkotaan
Tidak sedikit dari Suku Lauje
yang telah tinggal di perkotaan. Mereka datang dengan berbagai kepentingan. Ada
yang menjadi karyawan toko, bekerja sebagai ASN, ikut suami, melanjutkan studi
dan ada yang sekedar membantu keluarganya yang tinggal di perkotaan. Mereka
pulang ketika lebaran tiba atau hari-hari libur. Mereka "pulang
kampung" ketika ada kesempatan untuk menengok sanak saudaranya. Kebiasaan ini memang umum
di lakukan, bahkan kita di perkotaan sering melakukannya.
6. Mengikuti Perkembangan
Informasi
Suku Lauje sebagaimana suku
lainnya telah mengikuti perkembangan informasi. Melalui media televisi yang
makin mudah di akses sekarang ini, mereka mengetahui perkembangan yang terjadi
didaerah lain. Informasi yang diterima dapat mereka terapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Penyampaian dari pemerintah dengan mudah mereka ketahui.
7. Ikut Memanfaatkan Teknologi
Internet
Utamanya bagi Suku Lauje yang
telah berkembang dan mengikuti perkembangan zaman, mereka ikut pula
memanfaatkan teknologi internet. Melalui smartphone mereka dapat mengkases
internet dengan mudah. Apa yang ingin mereka ketahui dapat di cari dan
manfaatkan sehingga menambah pengetahuan mereka.
8. Dorongan yang Semakin Kuat
Dari Pemerintah
Tidak seperti beberapa tahun
lalu, dimana akses pemerintah kesulitan diterima oleh mereka yang tinggal di
pedalaman. Sekarang ini pemerintah mendatangi mereka di pemukimannya. Diberikan
penjelasan dan informasi, mendorong mereka supaya berkembang seperti saudara
mereka lainnya. Seperti contoh kerjasama pemerintah daerah dan masyarakat Suku
Lauje yang telah mengirimkan delegasi mewakili Propinsi Sulawesi Tengah untuk
mengikuti Jambore Tagana Nasional Jatim.
9. Sarana Jalan yang Makin Baik
Pemerintah daerah terus berupaya
untuk memperbaiki sarana jalan yang menuju kepemukiman Suku Lauje. Hal ini
karena ada perhatian dan keinginan yang kuat dari pemerintah untuk membangun
produktivitas Suku Lauje. Mulai dari anggotan DPRD sampai pemerintah ke tingkat
paling bawah sekalipun, berusaha mendorong kemajuan melalui sejumlah program
pemberdayaan. Jalan yang semakin baik memungkinkan transportasi yang lancar ke
tempat mereka berada.
10. Aspek Kesehatan yang Makin
Baik
Makin berkembangnya sarana
kesehatan memungkinkan mereka yang berada di pedalaman dapat menerima fasilitas
kesehatan. Termasuk Suku Lauje yang diprioritaskan menerima anggaran tersebut
untuk memperbaiki nasib mereka. Alokasi BPJS yang makin luas sangat membantu
mereka yang kehidupannya masih di bawah garis kemiskinan.
Apa yang telah diuraikan di atas
hanya sebagian dari perkembangan Suku Lauje, jika sahabat ingin mengetahuinya
silahkan membuka tautan yang sudah penulis berikan pada referensi dan sumber di
atas.
Semoga apa yang penulis tuturkan
di atas memberikan pencerahan bagi sahabat sekalian. Jika ingin berbagi
informasi silahkan kirim di kolom komentar. Jika ingin berlangganan silahkan
masukan emailnya dan tekan tombol berlangganan. Terima kasih atas kunjungannya.
Sumber : DISINI